800 Perawat Indonesia Di Kuwait Terancam Gara-Gara Ijazah

Posted on
JAKARTA
– Nasib 800 orang perawat Indonesia di Kuwait terancam. Para majikan,
pengerah tenaga kerja di sana, hingga pemerintah Kuwait berencana
memulangkan mereka. Penyebabnya, para perawat itu diketahui jebolan
kampus yang tidak terakreditasi.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan
Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristek- Dikti Illah Sailah
mengatakan, awal persoalan ini karena status akreditasi kampus di ijazah
para perawat itu. ”Memang dalam ijazah itu, ada yang tidak
terakreditasi,” kata Illah di Jakarta, kemarin.
Menurut Illah, masalah akreditasi kampus
ini menjadi ramai karena ada regulasi baru yang dijalankan oleh
pemerintah Kuwait. Dia mengatakan pemerintah Kuwait yang baru
menjalankan masa transisi, melakukan regulasi yang ketat soal tenaga
kerja asing.
”Diantaranya terkait dengan akreditasi dan legalitas kampus tempat para tenaga kerja dulu kuliah,” jelas dia.
Illah mengaku tidak hafal rincian kampus
asal para perawat itu. Dia hanya menjelaskan para perawat yang terancam
pekerjaannya itu umumnya lulusan 1993-1997. Dia menjelaskan pada masa
itu, memang belum ada regulasi kewajiban akreditasi untuk kampus-kampus
kesehatan di Indonesia.
”Tidak terakreditasi waktu itu bukan
berarti kampusnya tidak berizin. Saat itu memang belum ada aturan
kewajiban akreditasi,” jelas dia.
wimaogawa.blogspot.com

Illah mengatakan kewajiban akreditasi
baru keluar sekitar 2000 lalu. Dengan demikian Illah mengatakan tidak
adanya akreditasi itu bukan kesalahan dari para perawat atau alumni
perguruan tinggi. Dia juga menjelaskan para perawat itu terbukti
terampil karena sudah bekerja di Kuwait cukup lama.
”Saya akan jelaskan kepada pemerintah Kuwait serta para majikan dan biro tenaga kerja di sana,” kata Illah.
Dia mengatakan beberapa waktu lalu
sejatinya sudah mengirim tim ke Kuwait untuk mengurus kepastian nasib
para perawat itu. Tim ini dikirim ke Kuwait untuk menjelaskan bahwa pada
periode 1993-1997 tidak ada kewajiban akreditasi untuk setiap perguruan
tinggi.
Illah mengaku sampai saat ini masih
sering menerima pertanyaan tentang gelar akademik perawat di Kuwait.
Pejabat yang juga dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengatakan,
sangat disayangkan jika para perawat yang sudah nyaman bekerja di Kuwait
itu dipulangkan. Untuk urusan gaji misalnya, mereka rata-rata
mendapatkan penghasilan Rp 20 juta per bulan.
Para perawat ini umumnya bekerja sebagai
perawat rumahan atau perawat pribadi para manula di rumah-rumah
penduduk. Illah mengatakan pemerintah Indonesia mencegah kasus seperti
ini terulang lagi. Illah menuturkan setiap perguruan tinggi bidang
kesehatan atau bidang lainnya harus terakreditasi.

Khusus untuk perguruan tinggi bidang
kesehatan, setiap lulusan otomatis mendapatkan sertifikasi keahlian dan
akademik. Sehingga para pemberi kerja tidak perlu lagi mempertanyakan
urusan akreditasi dan sertifikasi.

SUMBER

9 thoughts on “800 Perawat Indonesia Di Kuwait Terancam Gara-Gara Ijazah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.